Tiana News

Berita Warga Langsung Dari Warga

Ada Apa dengan Pernikahan Dini?

Oleh: N. Vera Khairunnisa

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat (DP3AKB Jabar) menyampaikan bahwa pihaknya berhasil menekan angka pernikahan anak di Jawa Barat dengan adanya program Stop Perkawinan Anak Jawa Barat (Stopan Jabar).

Program Stopan Jabar berhasil menekan angka perkawinan menjadi 9.821 kasus, jumlah tersebut melampaui target yang diberikan Gubernur Jawa Barat yakni 15.000 kasus. (liputan6. com, 01/06/21)

Pemerintah memang senantiasa berupaya untuk mencegah atau menekan angka pernikahan dini. Selain program Stopan Jabar, ada juga program Gerakan Bersama Cegah Perkawinan Anak (Geber Cuwina).

Berbagai alasan yang sama disampaikan mengenai alasan mengapa pernikahan dini menjadi sesuatu yang harus dicegah. Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak (PKK) DP3AKB Jabar Iin Indasari dalam Podcast Juara (31/5) menegaskan bahwa perkawinan anak ini adalah akar atau sumber dari masalah keluarga lainnya, karena menyebabkan kematian pada ibu dan anak. Anak secara fisik belum siap hamil dan melahirkan risiko terjadinya distosia atau kesulitan dalam melahirkan, resiko pendarahan yang mengarah pada risiko kematian ibu dan anak.

Masih menurut Iin, perkawinan anak rentan menyebabkan kekerasan rumah tangga, karena secara fisik, ekonomi dan mental masih belum siap dalam mengarungi perkawinan. Kekerasan bukan hanya milik perempuan dan anak tetapi juga pada laki-laki. Kekerasan ini dapat mendorong perceraian, kehilangan sumber penghasilan rentan dan terhadap perdagangan orang atau human trafficking. Ini efek dominonya luar biasa. (liputan6. com, 01/06/21)

Pertanyaannya, benarkah pernikahan dini merupakan sumber permasalahan keluarga?

Memang benar bahwa permasalahan keluarga hari ini begitu banyak. Mulai dari masalah KDRT, ekonomi terbatas, pertengkaran yang tak ada ujung, perselingkuhan, dsb. Yang tidak jarang, semua problem tersebut berakhir dengan perceraian.

Akibat dari perceraian, maka hak anak-anak sedikit banyaknya akan terabaikan. Baik dari sisi pendidikannya, kasih sayangnya, dan sebagainya. Tidak sedikit anak-anak korban broken home mereka terjerumus pada pergaulan yang salah.

Di rumah, mereka tidak menemukan kehangatan, kasih sayang, bahkan untuk sekadar makan. Akhirnya mereka mencari semuanya itu di luar rumah. Mending kalau mendapatkan lingkungan yang positif, tapi jika sebaliknya?

Tentu semua permasalahan tersebut menjadi satu PR bersama yang harus segera mendapatkan penanganan. Jika tidak, maka akan menyebabkan kehancuran generasi. Ketika generasi hancur, maka hancurlah suatu negara.

Hanya saja, memandang pernikahan dini sebagai sumber permasalahan keluarga dan memiliki efek domino rasanya terlalu berlebihan dan menggeneralisir masalah. Padahal, kenyatannya bisa jadi tidaklah demikian.

Yang namanya hidup, pasti tidak akan pernah lepas dari ujian, termasuk dalam berumah tangga. Jika diibaratkan berumah tangga adalah mengarungi bahtera, maka kita tentu harus memiliki tujuan akan dibawa kemana bahtera tersebut.

Selain itu, kita pun harus mengetahui bagaimana cara mengendalikan bahtera, termasuk ketika menghadapi ombak dan badai yang mungkin akan menerpa bahtera tersebut.

Nah, permasalahannya hari ini begitu banyak pasangan yang tidak memiliki tujuan dalam berkeluarga. Tidak punya pegangan ilmu untuk menghadapi ujian, sehingga bahtera rumah tangga kerap oleng dan bahkan karam.

Tentu saja, semuanya ini bukan hanya dialami oleh mereka yang menikah di usia dini. Bahkan betapa banyak pernikahan di usia matang tetap sulit mewujudkan keharmonisan.

Sumber Utama Permasalahan Keluarga

Sebetulnya, ketidakharmonisan dalam keluarga disebabkan jauhnya pemikiran dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama, akibat pengaruh sekulerisme kapitalisme. Sebuah paham yang memisahkan antara agama dan kehidupan, serta menjadikan materi atau harta sebagai sumber kebahagiaan.

Sehingga mereka tidak mampu menjalankan kehidupan berumah tangga sesuai dengan apa yang diatur oleh syari’at Islam. Para istri tidak begitu memahami hak dan kewajibanya, begitu pula dengan para suami. Tujuan pernikahan untuk terwujudnya sakinah mawaddah warrahmah akhirnya hanya menjadi do’a dalam walimah.

Sungguh ironis ketika pernikahan dini dijadikan kambing hitam bagi permasalahan keluarga. Sementara gempuran budaya yang penuh dengan kebebasan tetap dibiarkan merajalela. Berhasil menekan angka pernikahan dini, bagaimana dengan angka seks bebas atau di luar nikah?

Kita tidak bisa pungkiri bahwa gempuran budaya di luar Islam terus mewarnai kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda. Berbagai rangsangan yang mengandung syahwat dibiarkan merajalela, tanpa adanya upaya penanganan yang serius.

Hasilnya banyak para remaja yang bergaul dengan bebas, seks di luar nikah bukan lagi hal yang tabu, begitupun dengan married by accident (hamil di luar nikah) sudah menjadi hal yang bisa diterima oleh masyarakat.

Padahal, mereka belum siap menikah, khususnya dari sisi keilmuan dan kematangan berpikir. Sebab selama ini kehidupan mereka jauh dari ilmu, hanya bersenang-senang dan bermain-main saja. Maka wajar jika kelak pernikahan mereka akan jauh dari kebahagiaan. Sebab diawali dengan kemaksiatan.

Bahkan yang lebih mirisnya lagi, jika mereka tidak bertaubat maka kehidupan mereka akan tetap sama, tidak jauh dari paham kebebasan. Akibatnya, anak-anak yang dilahirkan mengikuti jejaknya, bergaul dengan bebas, hamil di luar nikah. Begitu seterusnya. Na’udzubillah.

Pernikahan Dini Dalam Pandangan Islam

Rasulullah Saw. Bersabda (artnya): “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu memikul beban (rumah tangga), maka menikahlah. Karena sesungguhnya, pernikahan itu lebih menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan, barangsiapa belum mampu melaksanakannya, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai (meredakan gejolak hasrat seksual).” (HR Muslim).

Dalam syarah tentang hadis ini, para ulama memiliki perbedaan dalam menjelaskan tentang usia berapakah yang terkategori pemuda. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu jauh.

Menurut Asy Syafi’iyah, pemuda adalah penyebutan bagi orang hingga usianya sempurna mencapai 30 tahun. Al Qurthubi dalam Al Mufhim, ia berkata pemuda terjadi dari usia 16 tahun hingga 32 tahun, kemudian setelah itu disebut tua. Ini sama dengan pendapat Az Zamakhsyari. An Nawawi berkata pilihan paling tepat adalah ketika balig hingga usia 30 tahun.

Karena itu dalam Islam tidak ada batasan khusus mengenai usia berapa seseorang diperbolehkan menikah. Ketika mereka sudah baligh dan memiliki kesanggupan diri dalam memikul beban berumah tangga, maka sudah diperbolehkan untuk menikah.

Hukum pernikahan dalam Islam adalah sunah, baik bagi pernikahan usia muda maupun tua. Sama saja kedudukan hukumnya. Dalam sebuah hadis panjang disebutkan, ketika sekelompok orang mendatangi salah satu rumah istri Rasulullah Saw., kemudian mereka menanyakan tentang ibadah Nabi Saw., maka mereka merasa harus melebihi ibadah Nabi Saw..

Maka salah seorang di antara mereka menyatakan bahwa tidak akan menikahi wanita (agar diberi pahala seperti ibadah Nabi Saw). Ketika sampai berita itu pada Rasulullah Saw., beliau menjawab, “Namun aku berpuasa kemudian berbuka, aku salat kemudian aku istirahat (tidur), dan aku menikahi perempuan. Maka siapa yang membenci sunahku, ia bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari no 5063).

Sistem Islam Solusi Wujudkan Ketahanan dan Keharmonisan Keluarga

Di antara faktor penyebab kehancuran keluarga adalah karena adaya kebebasan di tengah-tengah masyarakat.
Untuk mewujudkan masyarakat yang bersih dari berbagai perilaku maksiat seperti perzinahan atau perselingkuhan, maka Islam memiliki sistem pergaulan yang khas, mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom.

Di antaranya adalah bahwa Islam mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menjaga pandangan dan kemaluan. Interaksi yang mengumbar naluri seksual (sillah jinsiyah) hanya boleh terjadi antara dua insan berlainan jenis yang telah diikat dengan akad pernikahan.

Allah Swt. berfirman (yang artinya),“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (QS An Nur: 30-31)

Islam juga mewajibkan perempuan dan laki-laki untuk menutup aurat sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan syari’at. Untuk perempuan, batasannya adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Selain itu, Islam juga memiliki sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam, yang akan melahirkan generasi berkepribadian Islam. Mereka akan cepat memiliki kematangan berpikir. Sehingga dalam Islam, nikah di usia muda tidak akan jadi soal jika mereka sudah memiliki kesiapan ilmu, kesiapan materi (kemampuan memberi nafkah), serta kesiapan fisik.

Pasangan nikah dini bisa sukses dalam mengarungi bahtera rumah tangga, ketika kedua belah pihak telah saling mempersiapkan diri untuk menikah dan menjalani kehidupan pernikahan menurut syariat Islam.

Jika rumah tangga diterpa ujian, maka keduanya akan mengembalikannya pada aturan Islam, dan saling ridha terhadap aturan tersebut. Tidak mengedepankan ego, namun mengutamakan keadilan dan ketentraman. Maka rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah akan betul-betul bisa dirasakan. (N. Vera Khairunnisa)

Terima Kasih Untuk Berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •