Tiana News

Berita Warga Langsung Dari Warga

Anomali Dunia Pendidikan

Di antara teori penting yang diajarkan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) adalah,
“materi menentukan metode”, dan “metode lebih penting daripada materi, tetapi tenaga pendidik lebih penting daripada metode”.

Sebabnya adalah, karena materi dan metode (seharusnya) sudah menyatu sebagai kompetensi tenaga pendidik (kepribadian, pedagogik, profesional dan sosial).

Materi yang diajarkan dalam video di atas adalah Kitab Talmud yang sangat rasis (lihat artikel sebelumnya tentang Talmud).

Namun dengan pilihan metode pembelajaran yang tepat (dalam hal ini metode doktrinasi) dan diajarkan oleh tenaga pendidik yang kompeten, meskipun materinya jelas tidak benar, hasilnya adalah tumbuhnya generasi baru Yahudi yang sangat militan secara berkelanjutan.

Kita bisa belajar dari video di atas setidaknya dua hal:

Pertama, tenaga pendidik seharusnya tidak hanya menguasai materi ajar (kompetensi profesional), tetapi juga memiliki ketiga kompetensi lainnya (kepribadian, pedagogik dan sosial).

Inilah salah satu anomali dalam dunia pendidikan kita, yang bahkan disadari sebagai masalah serius pun belum tercermin dalam kebijakan pengelolaan pendidikan pada berbagai level manajemen pendidikan.

Pola rekruitment (calon) tenaga pendidik sejauh ini belum benar-benar menjadikan keempat kompetensi itu sebagai kriteria penerimaan tenaga pendidik (terutama dalam hal kompetensi kepribadian dan sosial).

Problem ini terutama terlihat pada jenjang pendidikan tinggi, baik di lingkungan Kemendikbud maupun di lingkungan Kemenag.

Pola rekruitment dosen di PTKIN misalnya, selama ini tidak atau belum menjadikan lulusan LPTK sebagai persyaratan. Hal ini berlaku pada seluruh Fakultas dan Jurusan. Untuk tenaga dosen Jurusan/Prodi Tadris di lingkungan FITK sebagai bentuk LPTK di PTKIN misalnya, persyaratan kompetensi pedagogik ini belum dilaksanakan.

Padahal dalam UUSPN maupun dalam Undang-undang Guru dan Dosen jelas sekali disebutkan bahwa tenaga pendidik pada berbagai jenjang pendidikan harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikasi yang berasal dari LPTK terakreditasi.

Di lingkungan FITK sendiri pun untuk Jurusan Tadris, kriteria empat kompetensi itu belum diterapkan. Yang sudah dilaksanakan baru kompetensi profesional (penguasaan bahan ajar). Demikian juga (apalagi) bagi Fakuktas selain LPTK. Kondisi ini masih belum berubah sampai hari ini.

Kedua, pengelola Satuan Pendidikan pada semua jenjang pendidikan dan pada semua level manajemen pendidikan (makro, messo dan mikro), seharusnya menerapkan (dan tentu saja sebelumnya harus memiliki basis ilmu manajemen pendidikan yang memadai).

Dalam video itu, tampak jelas salah satu fungsi manajemen pendidikan, yaitu pengawasan dan evaluasi sedang dijalankan.

Ada tiga orang yang berdiri di samping guru, yang sedang mengawasi (dan mengevaluasi), bagaimana cara (metode) guru dalam menerapkan metode pembelajaran.

Dalam soal ini pun terjadi lagi anomali. Pengelola Satuan Pendidikan pada semua jenjang pendidikan (Dasar, Menengah dan Tinggi), tidak atau belum menerapkan basis ilmu manajemen pendidikan sebagai persyaratan bagi (calon) pengelola Satuan Pendidikan pada semua level.

Refleksi

Kedua problem di atas, sebenarnya sangat serius.

Bagaimana mungkin tenaga pendidik akan berhasil bila tidak menguasai berbagai model dan metode pembelajaran?

Bagaimana mungkin pengelola Satuan Pendidikan akan berhasil bila tidak menguasai ilmu manajemen pendidikan?

Sedangkan memiliki dan menguasai ilmunya saja belum tentu berhasil, sebab mengajar dan memimpin selain membutuhkan ilmu, juga memiliki dimensi “seni” dan membutuhkan pengalaman. Apalagi bila ilmunya pun tidak dimiliki.

Solusinya tidak bisa lain kecuali menerapkan seluruh teori dalam manajemen tenaga kependidikan,sebagai salah satu bidang kajian dalam manajemen pendidikan.

Ada dua bidang kajian utama dalam manajemen tenaga kependidikan, yaitu pengadaan (pre-service training) dan pembinaan/pengembangan (in-service training).

Bidang pengadaan merupakan tugas dan wilayah kajian LPTK. Bidang pembinaan dan pengembangan merupakan tugas dan wilayah kajian diklat institusi.

Namun yang lebih penting, kedua problem pendidikan kita itu baru bisa dipecahkan apabila sudah benar-benar diidentifikasi sebagai masalah serius yang membutuhkan skala prioritas tinggi untuk mengatasinya. Bila belum atau tidak pernah dianggap masalah, maka akan tetap menjadi anomali dan problemnya akan semakin pelik. (Maman Supriatman)

Maman Supriatman : (Lektor Kepala dalam MK Filsafat dan Manajemen Pendidikan Jurusan MPI FITK IAIN SNJ CirebonLektor Kepala dalam MK Filsafat dan Manajemen Pendidikan Jurusan MPI FITK IAIN SNJ Cirebon)

Terima Kasih Untuk Berbagi
  • 25
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
    28
    Shares