Belajar Di Rumah Menegaskan Fungsi Pendidikan Keluarga


Menyerah…Capek…pusing…begitulah ucapan yang terdengar dari salah seorang ibu dari anak SD, ketika ditanya kesannya saat mengajari dan membantu pelajaran putranya di rumah. Kadang, bila anaknya sudah mogok mengerjakan tugas, si Ibu akhirnya yang mengerjakan tugas anaknya. Setelah selesai, si Ibu pula yang mengantarkan tugas tersebut untuk diperiksa guru di sekolah. Ibu dari pagi sudah mendampingi anaknya yang susah diminta belajar. Mendingan kembali belajar di sekolah, begitu ujarnya, daripada harus mengajari dan mendampingi anak belajar di rumah.

Berbagai keluhan muncul dari orangtua akibat belajar dipindahkan hampir seratus persen ke rumah. Untuk orangtua anak yang lebih besar lain lagi keluhannya. Tugas yang banyak dan materi yang beragam membuat anak sulit mengerjakannya. Akhirnya si anak minta bantuan orangtua untuk sekadar mencari kejelasan materi atau jawabannya. Orangtua mendesah, tidak mengerti. Materi yang ditanyakan anaknya tidak pernah didengar atau mungkin lupa pernah dipelajarinya.

Anak yang lebih kraetif dan lebih lengkap fasilitasnya, lain lagi ceritanya. Dia lebih santai. Alatnya bisa lebih dari satu. Kadang HP nya di rumah lebih dari satu. Atau dibantu laptop. Sehingga menghadapi ulangan juga lebih santai. Toh tidak ada yang mengawasi. Sambil menjawab ulangan, bisa mencontek jawabannya di internet.

Ada lagi keluhan lainnya. HP hanya ada satu atau dua di rumah. Sementara penggunanya ada 5 orang. Ibu yang kreatif mengaturnya dengan membagi jadwal. Atau orangtuanya yang mengalah HP nya dikuasai anak. Masalah sulit muncul kalau HP nya ngadat, rusak. Kuota habis. Atau tidak ada sinyal. Maka, anak tidak bisa mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugas.

Serba-serbi masalah yang muncul akibat belajar di rumah. Ya, pandemi COVID 19, telah menyebabkan semua sekolah di Indonesia belum berjalan secara normal. Anak masih total belajar di rumah, dan tidak pergi ke sekolah. Belajar di rumah dengan berbagai tantangan dan kesulitannya, terkadang terasa campur aduk, lucu dan miris.

Apa yang menjadikan Belajar di rumah begitu sulit? Padahal guru di sekolah menghadapi siswa yang lebih banyak, dengan ribuan karakter dan latarbelakang? Apa yang keliru dalam keluarga saat ini? Mari kita cermati bersama .

Pertama, saat ini banyak orangtua yang sudah memasrahkan sepenuhnya pendidikan dan pengajaran anaknya ke pihak sekolah. Sehingga banyak sekali ungkapan yang bernada seolah sekolah bisa menggantikan rumah atau guru bisa menggantikan orangtua. Sekolah adalah rumah kedua. Guru adalah orangtua di sekolah. Tidak salah jika ungkapan itu dimaknai bahwa siswa harus senang dan nyaman ketika berada di sekolah. Tidak salah jika ungkapan itu berarti siswa harus patuh dan hormat pada guru. Akan tetapi, jangan dimaknai bahwa orangtua melepaskan tanggungjawab sebagai pendidik, pendamping, motivator putra-putrinya, karena ada pemeran pengganti. Fungsi pendidikan di sekolah harus sejalan dengan pendidikan di rumah, yang tentunya memerlukan perhatian penuh orangtua. Pendidikan di sekolah dan di rumah tetap berlangsung masing-masing, dengan visi dan misi yang sama, tetapi karakteristik dan nafas yang berbeda.

Kedua, orangtua banyak yang malas memahami cara mengasuh dan mendidik anak, ilmu parenting misalnya, untuk mendampingi dan mengarahkan anaknya sesuai perkembangan usianya. Dianggap ilmu seperti itu tidak produktif, karena tidak langsung menghasilkan materi. Para Ayah sibuk dan habis waktunya untuk bekerja. Ayah lupa bahwa sebagai seorang pemimpin adalah yang mendidik istrinya dan mengarahkan arah kapal keluarganya. Para ibu lebih suka sibuk bekerja mencari uang, gelar, posisi, eksistensi, atau bahkan sibuk nongkrong ngerumpi. Ketika anak adan ibu berada di rumah bersama dalam waktu yang lama, timbul masalah. Tidak menyenangkan, tidak menikmati, dan tidak membahagiakan. Oleh karena, selama ini keduanya memang jarang membangun kebersamaan.

Ketiga, orangtua lupa memahamkan dan mencontohkan bahwa kaum muslimin itu cinta ilmu. Belajar adalah kewajiban yangb diganjar pahala. Belajar untuk mendapatkan pahala dan ilmu. Belajar bukan semata mendapat nilai materi. Belajar adalah sepanjang hayat. Orangtua lebih banyak mencontohkan menghabiskan waktu untuk mendapatkan materi ataupun kesenangan lainnya. Ayah-Bunda lupa bahwa mereka adalah role model bagi putra-putrinya.

Keempat, anak saat ini diasuh oleh fasilitas dan lingkungan yang serba instan. Tumbuh kembang dalam sistem kapitalis-sekuler yang minim pemahaman agama. Contoh para pemimpin yang menghalalakan segala cara untuk kesenangan, kedudukan, dan jabatan. Tontonan contoh sekuler dan hedonis di media. Mengajarkan hidup adalah serba mudah dan serba boleh. Kebebasan dan kesenangan adalah utama. Asal ada materi, semua bisa, semua ada, semua suka. Masyarakat yang abai terhadap bentuk kemaksiyatan, yang penting tidak mengganggu pribadinya, membentuk anak-anak yang menuhankan kebebasan dan hura-hura.

Kelima, sistem dan kebijakan negara yang kapitalis, minimalis dalam mengurusi rakyatnya. Kebutuhan rakyat yang serba mahal, tanpa pengurusan dan pengaturan pemerintah, mendorong rakyat untuk berjuang habis-habisan pun hanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan pokok. Kondisi ini memaksa rakyat, para orangtua, ayah juga ibu, menghabiskan pikiran , waktu, dan tenaga untuk mencari makan. Sehingga kesempatan untuk memaksimalkan peran mengasuh dan mendidik anak, dianggap peran yang tidak produktif. Tidak penting. Cukup titipkan ke sekolah bagus, beres perkara.

Belajar di rumah menyadarkan kita, betapa pentingnya fungsi kelurga, yang tidak bisa tergantikan oleh apapun. Jadi, mari kita belajar mengembalikan fungsi keluarga sesungguhnya di dalam Islam. Keluarga yang tangguh, siap menghadapi kondisi apapun. Keluarga yang mencetak generasi cemerlang, pencipta peradaban gemilang. Semoga.

Terima Kasih Untuk Berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *