Dibutuhkan Seperti Sebatiao Salgado Bersama Istri, Untuk Penghijauan Tampomas

Rusaknya Gunung Tampomas akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab, mengeruk pasir tanpa melakukan penghijauan kembali, disinyalir menjadi petaka bagi Sumedang Kota dan sekitarnya. Keringnya air ke wilayah Cimalaka, berakibat berkurangnya pula ketersediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Sumedang.

Tampomas, Gundul. Adapun Kiprah para pegiat di sekitar Gunung Tampomas, katakanlah kelompok Tani Simpay Tampomas, yang sudah berusaha susah payah belum menunjukan perbaikan hutan secara keseluruhan. Hal ini, karena keterbatasan kemampuan terutama financial dan dukungan Pemerintah Kabupetan Sumedang. Ditambah dengan ketidakpedulian para penambang termasuk juga adanya akses Jalan Tol yang membelah Gunung sekitar Tampomas.

Adalah kang Sujana Kosim, Pria peduli lingkungan pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, dan sering menjadi pembicara di berbagai bumi di Indonesia, serta telah membimbing mahasiswa dalam melakukan peneliltan-penelitian, yang saat ini sedang berusaha untuk melakukan reboisasi hutan tampomas bersama kelompoknya.

Namun demikian, sebagaimana disampaikan penulis. Bahwa kemampuan Sujana, terbatas. Secara ekonomi, tentu belum bisa membebaskan seluruh hutan gundul paska penambangan yang dilakukan oleh para pegiat ekonomi Tambang Pasir. Dan penulis pun, masih belum melihat adanya itikad yang serius dari Pemerintah dalam membantu reboisasi di Tampomas. Setidaknya sampai dengan hari ini. Ini yang sering disampaikan Sujana. Bahkan, ketidakpedulian Pemerintah ini ditunjukan dengan adanya  acara yang dilakukannya  melakukan studi banding ke luar kabupaten, padahal dari sana mereka belajar di sini (Simpay Tampomas).

Tampomas, rusak bukan hanya oleh segelintir manusia tidak bertanggungjawab, tahun 2019 akhir, Tampomas di rusak oleh “Pembakar hutan” yang juga tidak bertannggungjawab. Lebih dari 500 Hektar, hutan milik Perhutani habis terbakar. Pinus, kopi dan puluhan bahkan mungkin ratusan jenis tanaman habis terbakar. Tidak terhitung berapa kerugian yang di derita, dan papsti penderitaan akan bertambah dengan berkurangnya kemungkinan debit air dan penghasil Oksigen yang dihasilkan.

Cerita dari Brazil

Foto oleh : Sebastião Salgado

Di Brazil, seorang fotografer, bernama Sebatiao Salgado bersama istrinya kembali ke kampung halamannya setelah puluhan tahun mengembara, melakukan pekerjaan sebagai fotografer. Apa yang terjadi, Kampung halamannya yang dulu hijau dan indah berubah layaknya padang pasir yang rusak dan tandus. Kepeduliannya, untuk melakukan reboisasi kemudian mendapatkan apresiasi dari berbagai penjuru dunia.

Butuh waktu selama hampir 20 tahun bagi Sebastiao bersama istrinya untuk mengembalikan hutan seperti semula. Ada 2 Juta pohon yang ditanam, sehingga wajah kampungnya kembali Indah. Flora dan Fauna, kembali seperti sediakala.

Diliput dan dijurnalkan di berbagai Bahasa di Dunia, akan keberhasilanya, Pria 75 tahun ini menyatakan kepada The Guardian, “Tanah itu sama sakitnya dengan saya – semuanya hancur,” kata Salgado. “Hanya sekitar 0,5% dari tanah ditutupi pepohonan. Kemudian istri saya punya ide luar biasa untuk menanam kembali hutan ini. Dan ketika kami mulai melakukan itu, maka semua serangga, burung, dan ikan kembali dan, berkat peningkatan jumlah pohon ini, saya juga terlahir kembali – ini adalah momen yang paling penting. “

Foto oleh : institutoterra

Salgado dan keluarganya mendirikan Instituto Terra dan sekarang telah menanam lebih dari 2 juta pohon, mengubah lingkungan. Dengan melakukan hal itu, katanya, dia telah menemukan satu jawaban untuk perubahan iklim – serta inspirasi kreatif.

“Mungkin kita punya solusi. Ada satu makhluk yang dapat mengubah CO2 menjadi oksigen, yaitu pohon. Kita harus menanam kembali hutan. Anda membutuhkan hutan dengan pohon-pohon asli, dan Anda perlu mengumpulkan benih di wilayah yang sama dengan yang Anda tanam atau ular dan rayap tidak akan datang. Dan jika Anda menanam hutan yang bukan milik, hewan tidak datang ke sana dan hutan diam.

Lebih lanjut, Sebastiao emnjelaskan bahwa di sebagian besar Afrika dan beberapa wilayah di Dunia, para spiritual termasuk uskup gereja di Tanzania dan Uganda, mereka memimpin upaya komunal berskala besar untuk memulihkan tanah yang tadinya berhutan.

“Kita perlu mendengarkan perkataan orang-orang di negeri ini. Alam adalah bumi dan itu adalah makhluk lain dan jika kita tidak memiliki semacam pengembalian spiritual ke planet kita, saya takut bahwa kita akan dikompromikan”, terangnya.

Berkaca dari apa yang dilakukan Sujana dan Sebastiao, kiranya para Ustadz, Kyai, para pemuka agama, peneliti, LSM dan Siapapun untuk secara bersama melakukan pengendalian bahkan pengembalian Hutan seperti sedia kala. Pemerintah, yang sedianya selalu menggembor-gemborkan sinergitas antara ABCGM, sudah selayaknya menjadi barisan paling depan dalam mengembaliakan hutan yang Gundul. Jangan sampai Kejadian berulang, memberikan izin kepada pengembang membuat perumahan di area hijau, seperti kejadian di Jalan Sebelas April.

Hal ini bertolak belakang dengan penghijauan, justru yang terjadi tebing yang hijau dan berpohon, ditebang dijadikan lahan perumahan. Untungnya terjadi bencana, sehingga aktivitasnya di stop sementara.

Harapan besarnya Stop selamanya dan beri sanksi terutama pemberi izin lahan yang tidak semestinya. Jadikan sebagai cambuk, untuk melakukan evaluasi sesegera mungkin. Sehingga kekecewaan Pak Wabup tidak terulang, seperti saat melakukan sidak ke lokasi perumahan yang longsor. (Rauf Nuryama)***

Terima Kasih Untuk Berbagi
  • 132
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    132
    Shares
  • 132
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *