Tiana News

Berita Warga Langsung Dari Warga

Dilema Pendidikan, Tingkatkan Mutu dan Jumlah Lulusan

Pandemi COVID-19 yang menginjak dua tahun membawa dampak pada pendidikan di Indonesia. Ada dua hal yang sangat dipengaruhi pandemi COVID-19 yaitu menurunnya kualitas pendidikan dan menurunnya jumlah lulusan pendidikan.

Padaa saat Hari Pendidikan ini, sangat layak untuk kita angkat, sejalan dengan keinginan pemerintah untuk makin meningkatkan mutu dan jumlah lulusan pendidikan.

Tepat dua tahun semenjak pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia telah terjangkit COVID-19, dunia pendidikan langsung kena dampak. Sekolah laring (tatap muka) langsung di tiadakan. Belajar daring menjadi pilihan.

Berbagai konsep belajar daring mulai digulirkan pemerintah. Setiap sekolah memodifikasi sesuai dengan kondisinya masing-masing.

Pro kontra belajar daring terjadi. Mulai dari metode pembelajaran yang menyulitkan siswa, memberatkan siswa dalam belajar, memberatkan orang tua yang harus menyiapkan ponsel dan kuota data, sampai ketidakmampuan signal telepon yang tidak ada. Ini semua menjadi titik pangkal menurunnya jumlah lulusan dan kualitas pendidikan Indonesia.

Selama pandemi, belajar daring diakui atau tidak akan menurunkan kualitas pendidikan. Bayangkan saja materi ajar hanya sedikit, dan itu disampaikan lewat daring, yang terkadang tanpa guru terangkan.

Siswa harus belajar sendiri. Ini menyulitkan. Apalagi kalau orang tua siswa tidak memiliki keilmuan yang cukup untuk mengajarkan pada anaknya. Maka tidak jarang terjadi orang tua memarahi anaknya karena anak tidak mengerti atau bahkan orang tua jengkel harus mengajari. Berita ini viral di media kita.

Kondisi ini bukan hanya diperkotaan yang sekolah elit, tetapi bahkan lebih parah pada sekolah-sekolah di pedesaan.

Kondisi demikian, harus diakui akan menurunkan kualitas pendidikan. Bukan hanya kualitas pendidikan, merdeka belajar yang digembar-gemborkan Mendikbud juga tidak tercapai.

Tingkat kebahagiaan anak dalam belajar jadi berkurang. Maka wajar seorang anak SD yang viral di YouTube dan masih berusia 9 tahun berpendapat sangat dibutuhkan kesenangan dalam belajar.

Albern, namanya, berpendapat bahwa pendidikan harus mengutamakan kesenangan anak. Tetapi bukan berarti selamanya harus bersenang-senang. Ketika waktunya belajar, maka siswa harus belajar.

Konsep ini dinamakan joyfull learning. Konsep pembelajaran yang menyenangkan. Nah selama pandemi, konsep joyfull learning nyaris hilang. Anak ada dalam tekanan yang luar biasa. Dan tentu kan berpengaruh pada psikis siswa.

Oleh karenanya, hal yang harus didahulukan adalah bagaimana mengembalikan psikis siswa, mengembalikan konsep joyfull learning dan tentu meningkatkan mutu pendidikan.

Selain menurunkan kualitas pendidikan, pendidikan di masa pandemi juga menurunkan jumlah lulusan sekolah, baik SD, SMP maupun SMA/SMK. Hal ini disebabkan beratnya biaya pendidikan di masa pandemi.

Kondisi ini akan mempengaruhi Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) sekolah. Dan tentu pada akhirnya Rata-rata Lama Sekolah juga akan berkurang.

Melihat dua persoalan besar tadi, yakni menurunnya mutu pendidikan dan menurunnya jumlah lulusan, maka diperlukan pemikiran yang matang dan cerdas untuk melakukan akselerasi pencapaian itu. Tidak mudah memang. Dua tahun ketertinggalan dan bahkan akan lebih dari dua tahun, proses percepatan itu memerlukan pemikiran serius bagi pemerintah pusat dan daerah.

Setidaknya beberapa hal saya memberikan masukan yang harus dilakukan dalam rangka percepatan mengejar ketertinggalan itu.

Pertama, melakukan perubahan metode pembelajaran yang memudahkan siswa belajar dan tetap memberikan suasana belajar yang menyenangkan. Banyak pakar pendidikan hendaknya dimanfaatkan untuk mencari metode pembelajaran dimaksud.

Kedua, perubahan kurikulum. Ini perlu dalam mengejar ketertinggalan. Dipilah dipilih bahan kurikulum yang lebih fleksibel dan sesuai dengan tuntutan zaman. Saya kira, Bung menteri lebih memahami apa yang saya maksud.

Ketiga, peningkatan sarana prasarana pendidikan. Anggaran pandemi yang besar, juga diarahkan untuk meningkatkan anggaran pendidikan dalam rangka mengejar ketertinggalan.

Keempat, meningkatkan kesadaran orang tua, bahwa pendidikan itu sangat penting.

Kelima, pemerintah daerah juga meningkatkan anggaran pendidikan sesuai kewenangannya dan perhatian yang lebih agar mutu pendidikan dan jumlah lulusan dapat meningkat.

Dengan kelima hal di atas, diharapkan mutu pendidikan dan jumlah lulusan dapat meningkat. Selamat Hari Pendidikan, semoga Pendidikan di Tanah Air makin berkualitas dan makin merdeka belajar!*

*) Penulis adalah Doktor Pendidikan dan pengelola SMK YAPPRI Sumedang

Terima Kasih Untuk Berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •