Guruku, Panutanku

Pendidikan adalah sebuah proses. Dalam proses pendidikan berisi pembentukan pribadi yang tangguh dan mulia, juga penyiapan tenaga kerja yang mumpuni. Proses pendidikan melibatkan berbagai faktor. Salah satunya adalah guru. Gurulah yang menjadi ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan itu. Gurulah yang berperan penting dalam keterlaksanaan prose situ.

Kenyataan di lapangan, saat ini pendidikan di Indonesia belum mampu memenuhi fungsinya. Kita dapati transformasi budaya barat nan bebas yang melekat pada diri anak didik. Nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan sikap hormat pada orangtua pada pribadi siswa menjadi barang langka. Perilaku kekerasan, seks bebas, LGBT, narkoba yang marak menimpa generasi muda.

Mental ingin serba mudah, gampang menyerah, serba boleh, serba instan, digemari sehingga tidak membuat mereka menjadi kader yang tangguh. Inilah potret buram mayoritas hasil pendidikan. Pendidikan karakter yang disuarakan dalam kurikulum seolah tak berbunyi. Sterilisasi siswa di sekolah lewat program fullday school pun seakan tak memberi harapan banyak.

Lantas mengapa pendidikan di Indonesia ini begitu lemah perannya dalam berkontribusi melahirkan generasi yang cemerlang? Apa sajakah permasalahannya yang ada di dunia pendidikan di Indonesia? Benarkah semuanya tersebab faktor guru yang tidak berkualitas? Ataukah ada sebab lain yang lebih dominan?

Beragam permasalahan yang dialami guru saat ini. Mulai dari tekanan ekonomi, lingkungan sosial, beban pekerjaan, kurikulum yang tidak jelas arahnya, kebijakan yang selalu berubah, dana pendidikan yang terbatas, bekal ilmu yang minim, bekal agama yang rendah, membuat sosok guru ideal jauh dari realita. Inilah diantara masalah yang menimpa guru.

Pertama, banyak guru yang kehilangan visi dan misinya. Tidak memahami fungsi dan tujuannya mendidik. Mengajar hanya sekadar rutinitas penggugur kewajiban. Orientasinya hanya bersifat materi; nilai ulangan, raport, kelulusan, gaji, dan sertifikasi. Tanpa ruh, motivasi, semangat dalam mengajar. Bahkan, tanpa keteladanan bagi anak didik.

Kedua, profesionalitas guru. Standar kelulusan guru hanya bertumpu pada nilai teori mata pelajaran dan metode mengajar. Tes kelulusan guru saat ini hanya berorientasi pada kemampuan kognitif, materi dan metode. Tidak ada standar kualifikasi kepribadian dan akhlak yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Memang, guru harus selalu meningkatkan kompetensinya secara terarah dan berkesinambungan. Akan tetapi solusinya bukan sebatas tes formalitas sesaat. Tes UKG, misalnya yang dianggap dapat mengukur dan memetakan kemampuan guru ternyata malah melahirkan masalah.

Program yang tidak matang, selalu berubah, dan dana yang minim, mengakibatkan UKG hanya menghasilkan guru pembelajar dengan model daringnya yang malah membuat guru semakin galau. Jadilah guru sering meninggalkan kelas karena sibuk belajar daring.

Kinerja guru pun diukur hanya dengan laporan tertulis model online. Tidak ditekankan pada pengawasan, pembinaan rutin dan berkesinambungan di lapangan. Sehingga kualitas kinerja guru memungkinkan direkayasa melalui data tertulis yang dirancang dan diisi oleh guru yang bersangkutan.

Ketiga, apresiasi dan penghargaan adalah suatu kebutuhan dan motivasi. Guru sebagai sebuah profesi penting pasti berkolerasi dengan penghasilan serta fasilitas yang bisa diperolehnya. Sayangnya, sekalipun gaji guru PNS saat ini, ternyata belum dikatakan memadai untuk memenuhi hidup yang layak. Ditambah sertifikasi sering macet dan telat. Bahkan, guru honorer masih ada yang digaji Rp 50rb/bulan.

Bagaimanapun, kita tidak bisa menolak realitas bahwa ada masalah dalam pendidikan kita, diantaranya masalah guru. Sedangkan guru pada hakikatnya adalah bagian sistem pendidikan sekaligus merupakan hasil dari sistem pendidikan. Guru harus melewati proses dan jenjang tertentu untuk dapat menghantarkannya menjadi seorang guru. Oleh karena itu, dapat dikatakan kegagalan pembentukan guru adalah akibat sistem pendidikan itu sendiri yang gagal.

Adapun berbicara sistem, kita tidak bisa memisahkan dari dasar ideologi yang membangun sistem tsb. Sedangkan, kita mengetahui bahwa ideologi yang mendasari sistem pendidikan Indonesia adalah kapitalis-sekuler. Ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan dan menuhankan materi.

Maka tak ayal lagi, sistem pendidikan dirancang untuk memenuhi tuntutan keberhasilan materi dan bersaing dalam materi belaka, jauh dari nilai-nilai ruhiah. Pendidikan agama hanya sebagai pemanis. Manusia didorong dan disiapkan untuk meraup materi sebanyak-banyaknya. Tujuan moral pendidikan berhenti hanya sebatas teori dan cita-cita.

Maka, ketika pun sistem sekuler mengerahkan segenap daya untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas, tentunya sesuai dengan standar kualitas yang diharapkan ideologi sekuler-kapitalis. Dapat disimpulkan output yang harus dihasilkan dari sistem pendidikan ini adalah yang sejalan dengan ideologi kapitalis-sekuler.

Bagaimana dengan guru yang dihasilkan dari sistem pendidikan berideologi kapitalis-sekuler? Adalah guru yang cerdas kognisi, terampil secara teknis, tapi miskin dari visi dan misi pendidikan sesungguhnya, karena berpusat pada materi. Siklus ini terus berulang. Terus menghasilkan manusia-manusia yang berpusat pada materi.

Peran guru seharusnya tentulah berbeda. Guru tidak hanya menyiapkan anak didik yang mampu bersaing di dunia industri dan memenuhi selera pasar dengan kompetensinya, tetapi ada 3 hal mendasar yang harus disiapkan guru, yaitu;

Pertama, visi dan misi guru mendidik siswa agar berkepribadian Islam. Selaras dengan tugasnya sebagai pendidik, guru harus menanamkan kepada siswa akan tujuan penciptaannya sebagai manusia oleh Allah, adalah untuk beribadah, taat kepada aturanNya menjauhi apa yang dilarangNya. Sesuai aturan agama. Kepribadian adalah terbentuknya tingkah laku yang sejalan dengan pola pikirnya yang selalu berlandaskan aturan. Pembentukan kepribadian ini dilakukan dengan menanamkan konsep hidup yang meliputi spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik, dsb.Tidak diperkenankan seorang guru mengajarkan konsep hidup di luar aturan agama.

Guru menjadi teladan siswanya. Tak cukup hanya member pemahaman, tetapi sekaligus memberi contoh apa yang dipahamkannya. Mendidik dengan teladan akan mebuahkan hasil yang efektif. Mendidik tanpa keteladanan hanya akan menimbulkan pembangkangan dan ketidakhormatan siswa.

Guru mendidik siswa dengan keahlian dan spesialisasi di berbagai bidang. Siswa tidak hanya disiapkan untuk mampu memecahkan berbagai persoalan hidupnya dengan pola pikir dan pola sikap yang benar, tetapi siswa juga harus mampu mengarungi kehidupan dengan keahlian dan spesialisasi yang dimilikinya. Misalnya, pengetahuan kimia, fisika, biologi, permesinan, kedokteran, transportasi, dsb.

Kedua, profesionalitas guru. Berbagai peraturan administrasi di bidang pendidikan merupakan sarana dan cara yang diperbolehkan yang dipandang efektif oleh pemerintah dalam menjalankan sistem pendidikan dan merealisasikan tujuan pendidikan. Sistem tersebut, dengan berbagai hukum dan peraturan-peraturan administrasi, termasuk kebutuhan akan perangkat administrasi, memiliki kelayakan untuk mencapai tujuan asas pendidikan dalam negara, yaitu membangun kepribadian kokoh, dengan cara menjalankan perangkat pembinaan, pengaturan, dan pengawasan di seluruh aspek pendidikan melalui penyusunan kurikulum, pemilihan guru-guru yang kompeten, dan pemantauan prestasi anak didik serta upaya peningkatannya. Hal itu ditempuh juga dengan melengkapi sekolah-sekolah, akademi-akademi, dan universitas-universitas dengan perlengkapan yang diperlukan seperti laboratorium, dan berbagai sarana pendidikan yang sesuai.

Ketiga, kesejahteraan guru. Umar Ibn Khattab radhiallahuanhu memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan, Pada masanya, ia antusias dalam meningkatkan mutu pendidikan. Khalifah Umar menetapkan gaji bagi setiap pengajar sebanyak 15 dinar setiap bulan.

Gaji pengajar sebanyak 15 dinar merupakan angka yang luar biasa. Tercatat 1 dinar setara dengan Rp.2.258.000. Artinya, pada masa Khalifah Umar, gaji guru mencapai Rp. 33.870.000.

Selain itu, pada masa Islam ada sistem pendidikan bebas biaya. Di masa Khalifah Harun Al-Rasyid, para penuntut ilmu diberi dorongan dengan memberikan hadiah sebesar 1.000 dinar bagi yang tekun mengumandangkan adzan, 1.000 dinar bagi penghafal Al-Quran serta bagi yang meriwayatkan hadits-hadits, dan 1.000 dinar untuk yang mendalami ilmu syariat Islam. Para Khalifah dan kaum muslimin berlomba-lomba mendirikan berbagai macam sekolah, perguruan tinggi Islam yang dilengkapi bermacam fasilitas.

Pada masa Khalifah Al-Muntashir didirikan madrasah Al-Mustansiriah sebagai satu-satunya sekolah Islam terbesar di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga 1 dinar. Di samping itu, setiap hari kehidupan mereka dijamin. Makanannya berupa roti dan daging tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Dari sisi kelengkapan sarana dan media pendidikan, diatur sedemikian rupa agar mampu menjadi sarana pendukung kemajuan pendidikan. Surat kabar, TV, radio, buku, dipantau dan dikontrol. Negara sangat tegas melarang gambar, film, drama yang mengandung pornografi dan unsur pelecehan terhadap nilai Islam. Hal seperti itu dimusnahkan.

Sesungguhnya, ketiga tugas guru di atas memang amatlah berat tetapi bukan hal yang musykil dilakukan oleh para guru. Namun, hal berat itu akan menjadi mudah bila disokong oleh peran negara yang maksimal. Tanggung jawab pendidikan harus diperhatikan penuh oleh pemerintah. Jangan bergantung pada masyarakat ataupun swasta.

Negara harus membangun sistem pendidikan yang tepat dan berlandaskan Ideologi yang benar. Dengan kata lain, Negara mesti menata sistem pendidikan yang benar. Mulai dari tujuan, hingga pelaksanaan di lapangan. Sehingga pada akhirnya, output dari sistem pendidikan tidak melahirkan guru yang sekedar siap untuk terjun mencetak anak anak didik untuk menghamba pada materi. Lebih dari itu, mencetak pribadi yang siap untuk terjun dalam gelanggang kehidupan dengan menghamba pada Tuhan semesta alam, dan memberi maslahat bagi umat manusia. Semoga!!!

Terima Kasih Untuk Berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *