Memahami Ekosistem Bisnis : Upaya Menghidupkan Bisnis

Iansiti dan Lanvien dalam bukunya The Keystone Advantage (2004) menganalogikan bisnis sebagai suatu ekosistem. Sejatinya unit bisnis yang satu memiliki ketergantungan dan saling mempengaruhi satu sama lain seperti komponen dalam ekosistem.


We are bound together by the nature of the relationships among products, technologies, markets, and innovation. Leveraging these relationships is critical to enhance firm productivity, to protect organization from disruption and to enhance their ability to innovate, evolve, and adpt. That means that no firm, product, or technology can be an island : No firm can be afford to act alone, and no product can be designed by isolation”.


Menjadi tidak heran, tidak sedikit produk baru yang diluncurkan gagal di pasaran atau hanya sekali unjuk karena tidak memperhatikan hubungan antar produk, teknologi, pasar, dan inovasi. Apalagi meningkatkan relasi diantara komponen tersebut. Ada produk yang diluncurkan hanya bermodal nekat dengan memasuki rimba raya yang telah didominasi dengan produk – produk sejenis yang sudah mapan. Terburu – buru meluncurkan suatu produk tanpa memperkuat ikatan antar produk, teknologi, pasar, dan inovasi berarti membunuh produk itu sendiri.

Telaah bagaimana hubungan antar produk di pasar. Produk mana yang mendominasi, apa kelebihan produk tersebut. Celah mana yang bisa dimasuki oleh produk baru. Apa yang menjadi kekuatan produk baru yang tidak bisa disediakan oleh produk incumbent. Apabila pangsa pasar yang dimasuki sama dengan produk incumbent dan produk baru tidak memiliki eksklusivitas maka sangat sulit meruntuhkan dominasi atau sekadar mengambil porsi produk incumbent. Karena memang tidak ada produk yang bisa didesain secara terisolasi tanpa memperhatikan kondisi ekosistem yang akan dimasuki produk tersebut.

Beberapa fakta menunjukkan banyak produk baru yang di-branding selain dengan harga murah juga menyentuh keguyuban suatu komunitas – seperti pemberdayaan masyarakat dan local wisdom – ternyata tidak mendapat perhatian konsumen. Konsumen berhak memilih produk yang secara value lebih dapat dinikmati. Dan value ini terdapat pada produk incumbent yang belum bisa dimentahkan oleh produk baru.

Menganalisis dan memperkuat ekosistem tidak hanya terbatas pada produk berupa barang, penjualan jasa juga tidak terlepas dari hal tersebut. Sebagai contoh, di rejim medsos seperti saat ini banyak ditawarkan destinasi pariwisata yang instagrammable, begitu seksi untuk dikunjungi.

Kenyataannya ketika dikunjungi, banyak wisatawan yang tidak mau atau bahkan jera untuk kembali lagi karena ekosistem bisnis yang tidak bagus. Atraksi, aksesibilitas, dan amenitas yang tidak memadai dan kurang bersinergi. Destinasi yang ditawarkan seharusnya menjadi candu yang memancing gairah bukan seperti obat pahit yang membuat kapok untuk menelannya kembali.

Menawarkan produk yang belum matang akan menjadi bumerang. Apalagi di rejim medsos seperti sekarang. Informasi mengalir dengan cepat dan hampir tidak dapat dibatasi. Orang bisa dengan mudah mem-viral-kan kekecewaannya. Promosi negatif bagi produk yang ditawarkan. Sarkasmenya orang akan menyebut promosi melebihi kualitas.


Tak ada sesuatu yang instant untuk berhasil. Semua melalui proses yang terukur dan terarah. Petakanlah ekosistem bisnis yang akan dimasuki dan posisikan dengan jelas produk yang akan diluncurkan. Perkuatlah komponen ekosistem yang memang harus diperkuat agar produk yang diluncurkan hidup berkelanjutan. (Dindin Sajidin)

Terima Kasih Untuk Berbagi
  • 18
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    18
    Shares
  • 18
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *