MEMBANGUN SIKAP SOLUTIF TERHADAP PANDEMI

New normal life, ataupun Adaptasi Kebiasaan Baru yang berusaha hidup berdampingan dengan COVID 19, ternyata tidak menjadi solusi. Pemberlakuan kebijakan pola hidup normal baru yang bercirikan hidup sehat, menjaga imunitas memakai masker, ,selalu hidup bersih, jaga jarak, bukan menjadi jaminan pandemi menurun ataupun bahkan berakhir. Angka penderita COVID 19 terus bertambah. Daerah yang sudah terkategori aman pun, bisa setiap saat tertular kembali.

Memang, Adaptasi Kebiasaan Baru bukanlah solusi tepat untuk menyelesaikan pandemi. Malah rentan membuat masalah lebih besar. Di Sumedang pun, orang yang terpapar COVID 19 kembali muncul. Mengapa demikian? Untuk masyarakat Indonesia dengan tingkat kecukupan makanan bergizi dan kesadaran kesehatan rendah, pola hidup sehat sangat sulit diwujudkan. Solusi New Normal ini lebih menitikberatkan kepada pemulihan kegiatan ekonomi dan pariwisata.

Kebutuhan masyarakat akan pekerjaan dan makanan pengisi perut menjadi diantara faktoryang mengalahkan seluruh ketakutan akan virus. Terkena virus mati, tak makan pun pasti mati. Maka pandangan terhadap virus COVID 19 berbeda. Ada yang hanya menganggapnya sebaga mitos, berlebihan, dan ada yang menduganya sebagai konspirasi. Ditambah lagi euforia masyarakat setelah dibatasai kegiatan sosialnya, menjadikan keinginan untuk bertemu, berekreasi, dan berkumpul makin membuncah.Menambah carut-marut kebijakan pemerintah yang dibungkus istilah New Normal ini.

Bila pun pola hidup sehat tidak dikaitkan dengan pandemi, bukankah ini adalah sesuatu yang baik dan berguna? Lalu mengapa masyarakat enggan untuk melakukannya? Disamping sikap ketidakpercayaan pada pemerintah dan kesulitan ekonomi yang semakin membelit masyarakat, maka akan lebih menarik untuk membahas masalah pandemi dari sisi kecenderungan pola sikap masyarakat saat ini. Apa sebenarnya yang dapat membentuk pola sikap masyarakat yang solutif terhadap berbagai masalah?

Dalam buku Asy-Syaksiyyah Islamiyah karya Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, dikemukakan bahwa Islam telah memberikan solusi sempurna dengan menjadikan kepribadian istimewa, bagi para pemeluknya. Sebuah kepribadian yang unik, berbeda dengan kepribadian yang lainnya. Dimana kepribadian ini dilandasi oleh aqidah sebagai kaidah berpikirnya. Di atas kaidah ini kemudian dibangun pemahaman dan seluruh persepsinya terhadap berbagai permasalahan hidupnya.

Kepribadian terdiri dari dua aspek, yaitu pola pikir dan pola sikap. Pola pikir adalah cara dia memikirkan sesuatu, menghukumi sesuatu, dan memutuskan kesimpulan akan sesuatu berdasarkan kaidah tertentu. Sedangkan pola sikap adalah cara dia untuk memenuhi naluri dan kebutuhannya berdasarkan kaidah yang dijadikan dasar pola pikirnya. Jadi pola sikap akan sesuai pola pikir, karena pola sikap dihasilkan oleh pola pikirnya.

Maka karakter pendiam ataupun periang , lemah lembut ataupun tegas, pendiam ataupun humoris, tidak menjadi objek inti pembahasan kepribadian. Apalagi bentuk fisik, penampilan ataupun gaya. Kepribadian terpusat pada bagaimana menciptakan pemikiran yang benar untuk menghasilkan sikap yang benar berdasarkan standar yang benar pula.

Maka untuk membentuk pola sikap yang benar dan tangguh, harus diawali membekali kaidah pola pikir yang kuat dan benar pula. Memenuhi, mengasah, membina pola pikir yang kuat, secara terus-menerus, konsisten, tanpa henti, berdasarkan standar tertentu. Sehingga terbentuk pola pikir yang khas. Pola pikir dengan standar sekuler –kapitalis, akan menghasilkan pola sikap sekuler-kapitalis. Demikian pula pola pikir dengan standar Islam akan menghasilkan pola sikap Islam. Sebagai seorang muslim, tentunya kita lebih memilih pola pikir Islam dan pola sikap Islam.

Islam, menyatakan bahwa menghadapi terkait pandemi sebagai musibah yang datangnya dari Allah Swt, maka pola pikir yang harus dibentuk adalah dengan memahami konsep-konsep tentang sabar, ikhlas dan tawakal. Bahwa sabar, ikhlas, dan tawakal adalah sebuah aturan syariat yang bersifat harus diyakini sebagai landasan pemikiran seorang muslim. Setelah diyakini konsep sabar, ikhlas, dan tawakal itu sebagai sebuah landasan berpikir, selanjutnya harus mengamalkan pola sikap yang sesuai dengan pemikiran tadi.

Yakni, menerima pandemi ini dengan hati terbuka, lapang dan jangan mengeluh. Kemudian berusaha sebaik mungkin , gigih, ulet, pantang menyerah dalam mencari solusi yang sesuai tuntunan syariat Allah Swt. Baik solusi yang diambil pemerintah, ataupun pribadi masyarakat dalam menghadapi pandemi harus sesuai aturan Islam. Sehingga, niscaya solusi yang digunakan akan tepat sasaran, tanpa menyisakan masalah lainnya.

Pola hidup sehat juga bukan hal baru bagi seorang Muslim. Bahkan kebersihan itu merupakan bagian dari Iman. Kewajiban bersuci dan bersih dari najis adalah salahsatu aturan Islam. Makanan halal dan thayyib (sehat) diwajibkan dalam Islam. Olahraga adalah bagian dari syariat, karena Islam lebih suka muslim yang kuat. Kesemuanya dalam upaya menyehatkan badan kaum muslimin agar maksimal dalam melaksanakan ibadah.

Sosialisasi atau dakwah tentang bagaimana negara dan masyarakat Islam seharusnya menghadapi pandemi, juga bagian dari aturan Islam. Menyeru manusia kepada kebaikan ( Islam) adalah jalan bagi orang-orang yang beruntung. Membuat masyarakat yang tidak tahu menjadi tahu bahkan paham. Sosialisasi dan informasi dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat karena merupakan kewajiban dari Islam.

Sikap masyarakat yang abai terhadap pandemi dan kesalahan memilih solusi, menandakan jauhnya umat dari pemahaman Islam yang benar. Umat tidak memiliki pola pikir Islam, maka jauh dari sikap Islami dalam menghadapi pandemi. Walhasil, sikap yang diambil untuk menghadapi pandemi tidak dilandasi oleh kataatan dan tanggungjawab sebagai seorang muslim.

Semua hal terkait pola sikap masyarakat dan pemerintah yang seia-sekata dalam memilih standar, saling mendukung serta memudahkan menghadapi pandemi, tiada lain sebagai perwujudan ketaatan dan keimanan kepada Allah Swt. Bukan semata-mata karena dorongan materi, kekuasaan, atau maslahat apapun. Motivasi yang kuat, yang melingkupi seluruh sikap pemimpin dan masyarakat. Melahirkan pola sikap yang seragam pada pemerintah dan masyarakat, yakni solutif dan tangguh. Berjuang sekuat tenaga melawan pandemi dengan cara tepat, yang didorong oleh ketaqwaan terhadap Allah Swt.

Sungguh Islam adalah solusi sempurna. Tinggal apakah Anda yakin atau tidak? ***

Terima Kasih Untuk Berbagi
  • 7
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares
  • 7
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *