MENGEMBALIKAN VISI DAN MISI GURU

Pandemi COVID 19 berdampak pada berbagai sendi kehidupan. Termasuk pendidikan. Sistem pendidikan yang diterapkan saat ini ternyata sangat rentan terhadap krisis. Pun hasil pendidikan, tidak melahirkan manusia tangguh yang siap menghadapi berbagai situasi. Solusi yang diterapkan oleh penguasa, juga tidak sesungguhnya berpihak pada pendidikan.

Kondisi orangtua saat ini banyak menyerahkan tanggungjawab pendidikan sepenuhnya pada sekolah. Mereka lupa bahwa tanggungjawab pendidikan pertama dan utama terletak pada orangtua. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi putra-putrinya. Jadi, di saat pandemi, ketika peran pendidikan membutuhkan lebih banyak kontribusi mereka, terutama ibu, seharusnya tidak memunculkan masalah baru. Oleh karena sesungguhnya mendidik dan mengajarkan sesuatu pada anak, adalah tugas orangtua sehari-hari.

Jadilah tugas beban mendidik seolah tertumpah seluruhnya di pundak guru. Akibatnya, guru seringkali menjadi pihak yang serimg disalahkan, ketika banyak masalah yang dialami siswa. Padahal keberhasilan pendidikan adalah dilahirkan dari dukungan berbagai sisi; keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Memang, guru memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kualitas siswa. Walaupun bukan satu-satunya Sehingga seorang guru wajib memahami visi dan misinya sebagai guru. Bagaimana seharusnya visi dan misi guru yang dapat melahirkan siswa cemerlang, memiliki kecakapan menghadapi berbagai tantangan hidup?

1.Guru harus memahami perannya sebagai hamba dari Sang Pencipta

Seorang guru harus mampu memecahkan tiga pertanyaan mendasar dalam hidupnya, sebagai seorang yang diciptakan oleh sesuatu Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah
a. Darimana Saya berasal?
b. Akan kemana Saya setelah meninggal
c. Apa yang harus saya lakukan selama hidup di dunia?

Apabila jawabannya adalah bahwa saya berasal dari Allah, dan saat meninggal akan menghadapi penghisaban alias dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan di dunia. Maka dipastikan ketika melakukan apapun di dunia harus berdasarkan aturan Yang Maha Menghisab. Konsekuensinya ketika dia sebagai pengajar dan pendidik, maka amalannya itu harus sesuai dengan aturanNya. Bukan sesuatu yang terpisah dari aturanNya. Sekaligus dengan visi seperti ini, akan tetap menjaga kekonsistenan dan semangat tinggi dalam berupaya mencetak generasi yang shaleh, pintar, dan berani. Oleh karena itu, seorang guru selayaknya membekali dirinya bukan hanya dengan ilmu yang sesuai dengan profesinya. Akan tetapi juga, menempa diri dengan ilmu tentang seluruh aturanNya.

2.Guru harus memahami perannya sebagai salah satu agen pengubah zaman

Guru harus memahami bahwa proses pendidikan yang dilakukannya tidak boleh hanya menghasilkan kesejahteraan hidup yang bersifat matrialistis sekuler. Sistem pendidikan seperti ini hanya mencetak manusia-manusia sekuler. Bahkan mereka ( baca : manusia materialistis-sekuler) sering melakukan kejahatan intelektual. Menipu, membohongi, mendzalimi, dengan kecerdasannya. Yang kuat memakan habis yang lemah.

Pendidikan dan pengajaran yang dilakukan oleh guru adalah pendidikan yang berbasis aqidah dan aturan yamg kuat. Mencetak bukan saja manusia yang unggul dalam sains dan teknologi. Juga, manusia yang berkepribadian Islam yang kuat. Memajukan, mensejahterakan, tanpa menimbulkan kesengsaraan pada sesamanya.

Apakah peradaban maju yang penuh kejahatan, kerusakan, dan kemaksyiatan yang ingin diciptakan, ataukah peradaban maju, cemerlang yang penuh keberkahan?

3.Guru memahami perannya sebagai anggota masyarakat

Saat guru ingin melakukan perubahan mendasar dalam pendidikan, tidak mungkin terlepas dari dukungan lingkungan sosialnya. Terlebih dukungan pemerintah. Tanpa dukungan orangtua, masyarakat, dan pemerintah, apa yang dilakukan oleh guru ibarat menegakkan benang basah. Kalaupun ada sedikit perubahan yang diperoleh, itu akan segera tergerus dan terkubur. Oleh karena itu guru pun perlu berupaya menyamakan visi dan misinya dengan berbagai pihak. Dengan cara menjelaskan, menyadarkan, dan membina masyarakat tentang tujuan pendidikan yang kuat dan benar. Maka untuk itulah Islam mewajibkan dakwah kepada kebenaran Islam kepada seluruh manusia yang meyakini akan kebenaran Islam.

Guru harus turut berjuang menciptakan lingkungan dan tata sistem yang memungkinkan kebenaran tumbuh subur. Bukan kebenaran yang berasal dari suara terbanyak atau mayoritas, seperti halnya dalam sistem demokrasi-kapitalis sekuler. Juga bukan kebenaran berdasrakan manfaat sebesr-besarnya yang diperoleh. Melainkan kebenaran yang muncul dari sistem yang benar dan diperintahkan oleh Yang Maha Benar. Apakah sistem itu? Yakni sistem yang menarapkan Islam secara kaffah/menyeluruh.

Akhirnya, kepada seluruh guru di Indonesia….Mari mewujudkan visi dan misi guru yang sesunggunya..Semoga!!!

Terima Kasih Untuk Berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *