Tiana News

Berita Warga Langsung Dari Warga

Model Pendidkan Pencetak Lulusan Unggulan


Oleh : Kurnia Agustini, S.Pd


Persoalan TKA, warga negara asing yang bekerja di Indonesia, seharusnya menjadi perhatian bersama. Apalagi jika migrasi TKA itu terjadi secara masif dan besar-besaran. Padahal dari kacamata bisnis saja TKA ini tidak menguntungkan, dengan fakta  bahwa umumnya upah tenaga kerja asing ini lebih besar dari tenaga kerja lokal. 

Walaupun ada pendapat yang menyatakan bahwa kehadiran TKA jangan dijadikan ancaman, dan harus menjadi motivasi tenaga kerja Indonesia agar lebih professional, tetapi jika tidak didukung oleh upaya pemerintah meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal sama saja dengan bunuh diri. Alasan menambah devisa negara pun tidak cukup, bila disandingkan dengan resiko banyaknya tenaga kerja lokal yang menganggur.  Oleh karena, kebijakan menyangkut TKA ini harus pula memerhatikan kepentingan dunia usaha nasional dan ketersediaan lapangan kerja bagi tenaga kerja Indonesia.

Membahas  tenaga kerja berarti berbicara tentang kualitas SDM. Maka, yang menjadi pertanyaan adalah apa persoalan mendasar dari kualitas SDM di Indonesia ini? Apa upaya yang sebenarnya untuk meningkatkan kualitas SDM? 

Tentunya pertanyaan di atas berhubungan erat dengan peran pendidikan yang sangat penting dalam meningkat SDM yang berkualitas. Sistem pendidikan yang  mampu mencetak  lulusan yang memiliki sikap mental dan kualitas  yang mampu bersaing di berbagai bidang. Bagaimana sistem  pendidikan menjadikan siswa dengan berbagai karakter dan kemampuan tetap dapat memiliki sikap profesionalime di lingkupnya masing-masing.

Lebih lanjut,  apakah pendidkan memang ditugaskan hanya untuk menghasilkan tenaga kerja profesinal?  Memang, ruh kapitalistik terlanjur mencengkeram dunia pendidikan. Pendidkan saat ini diarahkan  mengejar standar nilai – nilai materi. Para pelajar secara seragam  ditunjukkan pada satu jalan yaitu sekolah dengan nilai ijazah yang bagus, kemudian bekerja di perusahaan atau tempat bergengsi dengan gaji besar  dan fasilitas yang lengkap. Akibatnya dunia pendidikan berorientasi mencetak para calon profesional saja. Sekolah adalah tempat membentuk para pekerja berkualitas saja, tidak lebih. Itupun hanya bertumpu pada sekolah formal.  Lebih jauh pola pendidikan disesuaikan dengan industrialisasi. Pendidikan diarahkan untuk kepentingan dagang.

Pendidikan dalam sistem sekuler-kapitalisme seperti ini, memberikan basis pemikiran basis pemikiran kepada siswa bahwa kesuksesan pendidikan diukur dari hal-hal yang bersifat material, danmenafikan hal-hal yang bersifat non materi. Pendidkan dianggap sebuah investasi orangtua yang harus dikembalikan. Bentuk pengembaliannya adalah berupa gelar, jabatan, ataupun gaji besar.Kultur belajar saat ini pun jauh dari kultur belajar untuk menuntut ilmu, tetapi kultur belajar yang menghasilkan lulusan yang berpola pikir materialistik. Jadi seperti apakah seharusnya sebuah sistem pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang unggulan yang sesungguhnya?

Pertama , tujuan pendidikan seharusnya meliputi 3 aspek yaitu membangun kepribadian yang kuat, menguasai sains dan teknologi, serta memiliki kecakapan hidup. Dengan tujuan seperti ini siswa dibentuk untuk memiliki keimanan yang kokoh (baca : Islam), sehingga seluruh aktivitasnya akan sesuai dengan aturan karena akan dimintai pertanggungjawaban. Belajar untuk memuntut ilmu menjadi pemahaman yang wajib untuk dilaksanakan, sewhingga terbentuk kultur belajar untuk ilmu. Siswa tidak memandang tempat dan waktu untuk belajar, di sekolah ataupun di rumah. Siswa tidak bermasalah dengan siap dia belajar, apakah dengan guru, orangtua, ataupun masyarakat. Siswa belajar dengan semangat dimanapun dan dengan siapapun, sehingga tidak ada lagi masalah saat belajar di masa pandemi seperti saat ini.

Pun ketika sistem pendidikan meniscayakan penguasaan sains, teknologi, dan kecakapan hidup, tidak lantas  meminimalkan pemahaman agama. Pengasahan daya analitis dan berpikir kritis, juga bukan berarti melemahkan kesadaran akan ketaatan terhadap aturan Sang Pencipta. Akan tetapi, yang perlu dipahami adalah penafsiran dari definisi pendidkan maju dan lulusan unggulan itu sendiri. Apakah definisi pendidikan maju itu adalah menghasilkan lulusan materialistic-sekulerime? Maka  pendidkan Barat akandianggap sebagai model yang sangat maju.

Apakah model pendidikan Barat tidak meninggalkan masalah besar? Model pendidikan Brat memiliki keuntungan materi, memenuhi kebutuhan dan gaya hidup modern, serta pragmatis.  Generasi yang dihasilkan ahli dalam sains dan teknologi, tetapi miskin pemahaman ilmu agama. Bahkan agama dianggap penghambat kemajuan. Segala sesuatu dilihat dari manfaat yang bersifat materi,dan harus diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya.

Berikutnya dalam sistem sekuler , pendidikan yang menghasilkan lulusan unggulan model ini, berkembang menjadi komoditas. Lulusan bermutu dan mudah mendapat pekerjaan. Pendidkan menjadi komersil dan mahal. Lembaga pendidikan akan berlomba menjual  ‘ kualitas ‘ dengan harga yang amat mahal.

Model pendidikan Barat berujung kepada keduniaan. Hal ini menjadikan kebebasan sebagai kuncinya. Kebebasan menjadi alat utama pengembang potensi dan bakat individu. Keragaman inovasi memang muncul, tetapi harus menghasilkan pendapatan yang besar. Artinya, inovasi  yang tidak menghasilkan uang, samasekali tidak menjadi perhatian.

 Aspek spiritual dalam model pendidikan Barat adalah alat, bukan tujuan pendidkan. Agama adalah alat pemuas kebutuhan yang bersifat individual.  Toleransi dan penafsiran agama bentu apapun dibolehkan, asal tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat.  Alhasil, penyimpangan perilaku seperti perzinahan, LGBT, misalnya,  mendapatkan ruamg dan perlindungan.

Maka, seharusnya yang menjadi standar pendidikan maju dan lulusan unggulan bukan materi. Akan tetapi pendidikan maju adalah model pendidkan yang memiliki visi misi, prioritas, ukuran , yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Lulusannya mampu memadukan pemahaman dan sikapnya dalam kehidupan. Menguasai sains dan teknologi, memiliki kecakapan hidup, sekaligus taat pada Sang Maha Pencipta. Tujuan Pendidikan harus dikembalikan pada poros yang seharusnya, yaitu bukan sekadar mengejar kejayaan materi, tetapi lebih dari itu tujuan pendidikan harus berbasis ketaatan pada  aturan agama. Kalaupun nanti siswa dapat memperoleh ijazah yang bernilai bagus, dan mendapat pekerjaan yang bergaji besar, maka itu dianggap bonus, bukan tujuan.

Kedua, negara harus menjadi penanggung jawab utama dalam penyelenggaraan sistem pendidikan yang berkualitas yang murah, bahkan gratis. Negara yang menjamin dalam pelaksanaan pendidikan formal di sekolah, serta  pelaksanaan pendidikan secara informal dan nonformal  di keluarga dan masyarakat.

Mampukah negara menerapkan pendidikan gratis bermutu tinggi dengan dibiayai pendapatan pendapat negara non pajak? Ini bisa dilakukan oleh negara – negara dengan SDA melimpah seperti Brunei, Uni Emirat Arab, Qatar, atau Saudi Arabia. Apalagi jika negara dengan SDA melimpah, juga Indonesia, mereposisikan kembali arah pendidikannya.  Negara memberlakukan undang-undang yang mewajibkan anak bersekolah juga  memenuhi hak pendidkan warga negaranya secara maksimal, merata, dan menyeluruh.  Negara memosisikan anggaran pendidikan sebagai prioritas utama dalam anggaran belanja negara,  dan menjadikan hal ini menjadi prioritas utama dalam benak mazyarakat. Negar menjadi penjamin utama dana pendidikan yang sebesar-besarnya.  Negara akan mendorong para pejabat dan orangkaya di negerinya untuk berlomba  berpartisipasi dalam pendidikan untuk mendapatkan pahala pasif. Negara dan masyarakat mengerahkan segala daya untuk mewujudkan kemuliaan umat.  

Semoga kita bisa mewujudkan sistem pendidkan unggulan yang dibarengi dengan sistem kesehatan, politik dan ekonomi yang sejalan dan saling mendukung.  Dengan harapan, melahirkan lulusan unggulan yang memiliki pola pikir unggulan dan pola sikap unggulan. Lulusan yang bisa mempraktikkan apa yang dipelajari di sekolah dalam kehidupannya sehari-hari. Para generasi muda yang kritis, inovatif, cerdas, menjadikan agama sebagai solusi permasalahan hidupnya dalam mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat. (Kurnia Agustini, S.Pd)
Terima Kasih Untuk Berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •