Tiana News

Berita Warga Langsung Dari Warga

PPKM Darurat, Akankah Mampu Mengatasi Lonjakan Covid-19?

Pandemi masih terus mengancam di negeri ini, ditandai dengan adanya level yang menunjukkan jumlah kasus. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) akhirnya diterapkan pemerintah setelah kasus positif Covid-19 makin tak terkendali dan terus melonjak.

Dalam aturan PPKM Darurat terdapat istilah level 3 dan level 4 yang menjadi fokus sorotan dalam penerapan PPKM Darurat di sejumlah daerah. Wilayah Ciayumajakuning (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Majalengka, dan Kuningan) juga masuk dalam kedua level tersebut. (Tribun Cirebon, 3/7/2021)

Memang sudah hampir satu tahun lebih pandemi membersamai. Bukannya hilang, wabah malah semakin menjadi dan tak terkendali. Penambahan kasus yang diiringi dengan problem ekonomi terus menuju keterpurukannya. Sedangkan pemerintah masih saja dinilai gagap dalam menanggulanginya.

Pemerintah di awal kebijakannya bersikukuh tidak akan menerapkan lockdown total pada daerah yang terjangkiti wabah. Pemerintah malah memberlakukan PSBB, PSBM, dilanjut dengan new normal kala wabah sedang tinggi. Kini, PPKM akhirnya menjadi pilihan utama. Namun, apakah solusi PPKM darurat mampu mengatasi lonjakan kasus yang terus berulang ini?

Sesungguhnya solusi parsial seperti PPKM ini tak akan mampu menyelesaikan masalah. Bahkan menambah masalah diantaranya persoalan ekonomi. Rakyat pun mulai jenuh. Gonta-ganti kebijakan tak membuahkan hasil nyata. Korban tambah banyak berjatuhan. Kalaupun mereka ingin di rumah saja, pemenuhan hidup tak ada yang menjamin. Akhirnya rakyat tak ada pilihan lain, keluar rumah demi mendapatkan sesuap nasi.

Semua kebijakan mengenai pandemi ini berasal dari dugaan manusia semata. Dugaan yang hanya berpangku pada akal manusia. Anggapan mengenai ekonomi lebih utama dari keselamatan rakyat. Hal itu membuat seluruh kebijakan mengacu pada pertumbuhan ekonomi. Beginilah jika aturan berporos pada materi. Setiap kebijakan diambil dengan mementingkan materi.

Inilah karakter dari negara demokrasi kapitalisme, di mana pergerakan ekonomi lebih diutamakan dibanding nyawa. Hal ini pun sekaligus menunjukkan kegagalan kapitalisme dalam mengatasi pandemi.

Berbeda halnya dengan Islam yang berpegang pada wahyu. Konsep Islam dalam mengatasi wabah begitu komprehensif. Dirancang mulai dari pencegahan/preventif, aspek promotif, kuratif, hingga rehabilitatif. Konsep yang totalitas dan utuh ini terkait beragam aspek, baik kesehatan, ekonomi, maupun politik dalam negeri.

Preventif, konsep karantina akan langsung diberlakukan di tempat wabah pertama kali ditemukan sekaligus menutup pintu-pintu perbatasan, disertai jaminan hidup dasar bagi penduduk wilayah karantina.

Negara akan melakukan testing sebanyak-banyaknya, sekaligus tracking/tracing untuk menelusuri bagaimana penularan. Hingga akhirnya jelas dan bisa dipisahkan antara rakyat yang sehat dan sakit.

Saat terdengar pertama kali wabah merebak di luar negeri, negara segera menutup pintu-pintu perbatasan. Ketika wabah itu ada di dalam negeri, maka karantina setempat diberlakukan.

Promotif, melalui departemen penerangan. Negara akan menggencarkan beragam info yang benar tentang konsep 5M yang harus dilakukan masyarakat sekaligus menyaring segala hoaks. Negara juga mendorong untuk menjaga diri dan jangan sampai menimbulkan bahaya bagi lingkungan dan manusia lainnya, sehingga akan muncul kesadaran untuk saling menjaga.

Kuratif/pengobatan, melalui penelusuran dan tes massal, akan bisa terdeteksi secara cepat rakyat yang sakit sehingga dapat segera memisahkan mereka dari yang sehat. Tindakan perawatan dengan pelayanan medis terbaik dan gratis pun dilakukan.

Demikian juga bagi yang tidak bergejala (OTG), akan dirawat dengan isolasi terpusat dalam pengawasan petugas medis. Negara akan mendorong dan memfasilitasi ilmuwan untuk terus melakukan penelitian guna menemukan formula terapi dan penelitian vaksin terbaik.

Rehabilitatif, bagi yang terdampak, misal ada kepala keluarga yang sakit atau mungkin wafat dan meninggalkan tanggungan keluarga, maka negara tidak tinggal diam. Negara akan hadir memberikan bantuan bahkan akan menanggung nafkah keluarga tersebut secara penuh jika tidak ada keluarga besarnya yang bisa menggantikan menanggung nafkah.

Alhasil, hanya dengan mengembalikan kepada solusi Islam sajalah masalah pandemi ini bisa segera dituntaskan. Bukan PPKM yang hanya menjadi solusi tambal sulam ala kapitalisme, dimana yang menjadi timbangan adalah untung rugi bukan menyelamatkan nyawa rakyat.

Wallahu a’lam bishshawab.

Penulis adalah Muslimah Revowriter Majalengka dan Member Writing Class With Has.

Terima Kasih Untuk Berbagi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •