Sumedang, Dalam Bayang-Bayang Jalan Tol

Sumedang digambarkan oleh Doel Soembang dalam lagunya, sebagai kota leutik camperenik atau kota kecil yang mungil namun cantik. Indahnya liukan jalur Cadas Pangeran, jalan menuju Sumedang dari Kota Bandung. Pegunungan nan asri, udara yang segar, pesawahan yang subur, kebun-kebun yang produktif dan masyarakat agamis yang terkenal dengan someah hade ka semah. Itulah sejatinya Sumedang, pewaris tahta kerajaan Sunda Padjadjaran.

Sebagai kerajaan, Sumedang pernah Berjaya. Kekuasaannya begitu luas, hampir seluruh Pulau Jawa. Itu dulu. Kini Sumedang hanya tinggal 26 Kecamatan itu pun setelah pemekaran dengan 270 Desa dan 6 Kelurahan. Angka kemiskinan dan stunting masih tinggi, sebagian besar masyarakatnya hidup dari Pertanian dan buruh tani. Yaa.. buruh tani, mereka menjadi petani tetapi tidak punya lahan pertanian, ironis.

Tapi tidak masalah, karena nelayan pun tidak punya laut. Yaa kan? Bahkan di teknologi industri, era komunikasi dan informasi, 4.0, banyak orang aneh. Tukang ojeg tidak punya motor, GRAB, GOJEK. AirNB, tukang nyewain kamar hotel dan penginapan tidak punya hotel satu pun. Jadi, untuk menggeluti bisnis, tidak mesti kita harus punya, namun yang penting kerjasama.

Sinergi, adalah peluang mendapatkan penghasilan. Bahkan bisa jadi dengan Sinergi KARIR jadi cemerlang.

Kembali ke Judul tulisan ini. Ada apa emang dengan jalan TOL. Jalan bebas hambatan yang menghubungkan Bandung Cirebon, via Sumedang. Cileunyi, Sumedang, Dawuan (Cisumdawu). Sepertinya banyak yang apriori dengan adanya jalan tol ini.

Beberapa diantaranya, takut sepi pengunjung, sebagaimana pemberlakuan Jalan Tol terpanjang yang membelah Pulau Jawa, dari Jakarta sampai dengan Jawa Tengah, Cikopo-Palimanan, Palimanan-Kanci, Kanci-Pejagan sepanjang hampir 178 KM. Terpanjang dalam sejarah jalan Tol di Indonesia. Aktifnya jalan tol ini, mengakibatkan beberapa pedagang di sepanjang jalan jadi sepi. Apakah mereka MATI? Tidak.

Tukang Batik di Trusmi Cirebon, sepi pengunjung? Ya. Tapi omset mereka menjadi tambah besar, bukan karena pengunjung, tapi karena ada perubahan cara penjualan. Dari manual ke digital. Dari Offline ke Online. Ada disrupsi emang, tapi kreativitas tidak mematikannya, justru membuat mereka menjadi lebih produktif.

Apakah dengan jalan Tol yang aktif dari Cileunyi Sumedang Dawuan sepanjang 60 KM, akan mematikan semua pengusaha di sepanjang jalur ini? Jika ya, ada berapa pengusaha yang terkena dampak? akankah mereka DIAM? Tentunya Tidak. Bahkan Pemkab Sumedang, telah banyak langkah antisipatif, dengan turut serta dalam menentukan kebijakan, misalnya pembuatan rest area. Sudahkan Pengusaha Sumedang menyiapkan diri untuk itu?

Cirebon, sebagai Kota perlintasan malah tumbuh subur pembangunan Hotel, Rumah Makan, dan bahkan dari sisi pertumbuhan ekonominya. Bagaimana Dengan Sumedang? Sumedang bisa jadi demikian, semua terganting Kita. Ya, Kita…. Pemerintah, Masyarakat, Komunitas, Pengusaha, Akademisi, berjalan bersama menumbuhkan Sinergi, bukan dengan antipati apalagi mau menang sendiri.

Semoga…!!!

Terima Kasih Untuk Berbagi
  • 445
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    445
    Shares
  • 445
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *